• Selasa, 09 Februari 2010
  •                     |                         
  • PR Online
  • Home
  • Pikiran Rakyat Cetak
  •                          |

E-PAPER

  • screenshoot pr cetak

OLE-OLE

 
si kabayan

CUACA BANDUNG

Utara Timur Selatan Barat Tengah
Sumber: BMG Bandung

JADWAL SHOLAT

Bandung & Sekitarnya
Subuh 04:34 WIB
Zuhur 12:06 WIB
Asar 15:23 WIB
Magrib 18:18 WIB
Isya 19:29 WIB

TUNGGU DULU

PENGELOLA program TV I’m a Celebrity...Get Me Out of Here! versi Jerman menghadapi tuntutan hukum atas matinya tiga ikan emas. Gugatan diajukan setelah bintang idola remaja, Daniel Kueblboeck melakukan atraksi menantang menggunakan sejumlah ikan emas dan laba-laba air. Akibat atraksinya itu, tiga ikan emas mati tergencet. Meskipun acara itu memiliki "rating" cukup tinggi, Departemen Kehakiman menegaskan hal itu adalah pelanggaran karena binatang mendapat perlindungan hukum. Atraksi itu telah membuat citra buruk dan mengabaikan martabat manusia. (Ananova)***

Arkeologi
Bengkel Industri Purba di Purbalingga

Kabupaten Purbalingga Jawa Tengah (Jateng) ternyata merupakan kawasan manusia purba zaman batu. Populasi mereka diperkirakan cukup besar pada masanya. Kekayaan peninggalan budaya zaman batu itu, ditemukan di wilayah sisi timur Gunung Slamet, yang tercecer sepanjang anak-anak Sungai Klawing dan sepanjang aliran Sungai Klawing.

Sejumlah arkeolog di tanah air yang selama puluhan tahun mengelar penelitian, telah menemukan bukti sejarah adanya peninggalan zaman batu yang berceceran di sejumlah kecamatan. Antara lain di Kecamatan Bobotsari dan Kecamatan Karanganyar.

Jejak manusia purba yang ditemukan di daerah Purbalingga ini, mulai dari Palaeolitikum (zaman batu tua, diperkirakan sebelum 10.000 s.d. 50.000 tahun sebelum Masehi). Pada zaman itu, alat-alat terbuat dari batu yang masih kasar dan belum dihaluskan. Contoh alat-alat yang ditemukan dari Purbalingga adalah kapak genggam, kapak perimbas, dan pisau batu. "Jumlahnya cukup banyak. Semula saya tidak percaya temuan itu merupakan peralatan batu prasejarah. Tetapi di sisi lain, sulit untuk tidak percaya mengingat mekanisme erosi dan pelapukan yang rasanya tidak mungkin sampai menghasilkan produk graveles yang beberapa bagiannya terpangkas sempurna. Ini memang peninggalan zaman Paleolitikum," kata Sujatmiko, ahli geologi dari Kelompok Riset Cekungan Bandung, ketika ditemui di Pusat Promosi Batu Mulia di Jln. Pajajaran.

Contoh peralatan batu tersebut, diperlihatkan oleh Sujatmiko di galerinya di Jln. Pajajaran. Batu-batu yang ditunjukkan antara lain batu mulia jasper yang berusia lima sampai dengan sepuluh jutaan tahun lalu, yang begitu keras. Batu-batu itu digunakan sebagai peralatan untuk berburu, menguliti hewan, dan mengiris daging.

Selain bukti peninggalan zaman batu tua, juga ditemukan peralatan zaman batu muda atau Neolitikum (diperkirakan seribu tahun sebelum Masehi). Pada zaman itu, peralatan batu itu sudah lebih halus. Batu-batu yang ditemukan ada yang berbentuk gelang berikut cetakan gelangnya dari batu dan alat lainnya yang lebih halus, seperti kapak persegi.

Temuan lainnya, yaitu zaman batu besar atau Megalithikum. Bukti adanya peninggalan Megalithikum dengan ditemukannya 22 situs bengkel batu prasejarah di beberapa daerah aliran sungai di Purbalingga. Temuan lainnya, menhir atau tugu batu yang didirikan sebagai tempat pemujaan untuk memperingati arwah nenek moyang. Lalu punden (batu berundak-undak) yang merupakan bangunan tempat pemujaan yang tersusun bertingkat-tingkat.

Menurut Prof. Dr. Harry Truman Simanjuntak dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional Departemen Kebudayaan, melihat hasil penemuan artefak, teknologi yang digunakan manusia pada masa itu, sudah cukup maju dan menerapkan teknologi karena tak ditemukan bentuk artefak yang janggal. Bahkan ada beberapa artefak yang menunjukkan hasil adopsi budaya perunggu berupa prototipe kapak perunggu. "Ini menunjukkan bahwa manusia pada masa itu telah memasuki periode baru, proto sejarah," kata Truman.

Pada umumnya masyarakat pada masa proto sejarah, menurut Truman, banyak mengembangkan ide keagamaan dengan mendirikan bangunan batu berukuran besar atau megalitik. Budaya megalitik inilah yang menjadi ciri khas asli nenek moyang Indonesia, sebelum menerima pengaruh Hindu, Islam, dan kolonial.

Meskipun cukup mudah menemukan artefak Neolitikum maupun Megalitikum di Purbalingga, namun sejauh ini belum ada arkeolog yang dapat menemukan fosil hewan maupun manusia. Truman memperkirakan, kesulitan itu disebabkan oleh sifat tanah yang asam sehingga menghancurkan fosil hewan maupun manusia yang ada di daerah itu. Sementara itu, manusia prasejarah pertama yang pernah tinggal di zaman Megalitikum di wilayah Purbalingga adalah manusia ras Austronesia.

"Sejumlah penemuan puluhan situs purbakala di kabupaten tersebut juga membuktikan bahwa Purbalingga dulunya merupakan wilayah pertama hunian ras Austronesia," kata Harry Truman di Purbalingga beberapa waktu lalu.

Manusia ras Austronesia itu usianya diperkirakan sekitar 3.570 tahun yang lalu. Mereka sudah mendiami sepanjang daerah aliran sungai. Di wilayah tersebut banyak ditemukan peninggalan peradaban manusia ras Austronesia, berupa temuan artefak termasuk situs-situs. Ras Autronesia adalah ras manusia tertua di Indonesia.

Dari hasil penelitian para arkeolog, di antaranya ditemukan 22 situs bengkel batu prasejarah, 21 punden berundak, 8 menhir, dan 42 ribu peralatan batu lainnya. Truman berani menyimpulkan jika dulunya Purbalingga pernah menjadi bengkel industri purba. Hal ini didasarkan pada berbagai penemuan purbakala seperti gelang, sisir batu, beliung, dan lainnya.

Bukti tersebut juga mengarah pada fakta bahwa bengkel industri purba bukan hanya untuk kebutuhan sendiri, namun sudah dijual ke luar daerah. "Tidak hanya untuk kebutuhan sendiri, hasil produksi bengkel industri batu di Purbalingga bahkan telah dijual keluar daerah," katanya.

Hal serupa dikatakan Sudjatmiko, bahwa daerah Purbalingga ini yang memiliki persebaran batu-batu peninggalan budaya manusia Paleolitikum, Neolitikum, maupun Megalitikum. "Zaman dulu Purbalingga adalah kawasan penduduk purba yang diperkirakan populasinya banyak sekali. Hal itu, berdasarkan temuan peralatan batu yang luar biasa banyak," katanya.

Dia bersama dengan mahasiswa Fakultas Geologi Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, telah menemukan potongan batu limbah gelang batu berbahan dasar jasper hijau yang berbentuk cakram. Potongan batu ini diperkirakanberasal dari zaman Neolithikum atau zaman batu muda.

Selain itu, ditemukan juga batu bernilai tinggi yang disebut sebagai batu Le Sang Du Christ (batu darah Kristus) dan potongan batu hasil buatan manusia zaman prasejarah di wilayah Bobotsari dan disepanjang DAS Klawing.

Le Sang Du Christ yang konon merupakan batu mulia dengan kualitas terbaik oleh warga setempat sering di sebut sebagai Nogo Sui. Selain itu juga ditemukan artefak batu prasejarah dan batu mulia jenis Le Sang Du Christ, dan batuan Panca Warna. Batuan ini merupakan batu mulia yang memiliki kualitas tinggi danbanyak diburu oleh penggemar batu. "Kami akan memetakan kawasan mana saja di Purbalingga ini yang memiliki persebaran batu-batu peninggalanbudaya manusia neolithikum," katanya.

Sujatmiko menambahkan, temuan limbah gelang batu merupakan temuan yang sangat menarik. Hal itu menandakan kegiatan manusia masa Neolithikum di Purbalingga mulai melirik ke benda-benda estetik, bukan lagi berdasarkan fungsinya. "Dari sumber-sumber arkeologi, gelang batu ini dibuat manusia prasejarah dengan menggunakan bambu dan pasir," ujarnya.

Rencananya, temuan itu akan dibukukan, dan kini sedang dalam proses penyusunan bersama timnya. "Kita sedang mengumpulkan bahan untuk penulisan buku. Sayang sekali, kalau sampai temuan itu terabaikan," katanya. (Eviyanti/Undang Sudrajat/"PR")***

Penulis:
Back