• Selasa, 09 Februari 2010
  •                     |                         
  • PR Online
  • Home
  • Pikiran Rakyat Cetak
  •                          |

E-PAPER

  • screenshoot pr cetak

OLE-OLE

 
si kabayan

CUACA BANDUNG

Utara Timur Selatan Barat Tengah
Sumber: BMG Bandung

JADWAL SHOLAT

Bandung & Sekitarnya
Subuh 04:34 WIB
Zuhur 12:06 WIB
Asar 15:23 WIB
Magrib 18:18 WIB
Isya 19:29 WIB

TUNGGU DULU

PENGELOLA program TV I’m a Celebrity...Get Me Out of Here! versi Jerman menghadapi tuntutan hukum atas matinya tiga ikan emas. Gugatan diajukan setelah bintang idola remaja, Daniel Kueblboeck melakukan atraksi menantang menggunakan sejumlah ikan emas dan laba-laba air. Akibat atraksinya itu, tiga ikan emas mati tergencet. Meskipun acara itu memiliki "rating" cukup tinggi, Departemen Kehakiman menegaskan hal itu adalah pelanggaran karena binatang mendapat perlindungan hukum. Atraksi itu telah membuat citra buruk dan mengabaikan martabat manusia. (Ananova)***

Pendidikan Literasi di Ruangan 203

"FREEDOM Writers", salah satu film populer remaja, cukup bagus dan praktis memberikan pengetahuan hal-hal seputar dunia literasi. Membincangkannya saya kira baik buat melihat perilaku membaca dan menulis yang teralami dengan serius tetapi menyenangkan. Diangkat dari kisah nyata, "Freedom Writers" menceritakan pengalaman Erin Gruwell (diperankan Hilary Swank) dan siswa-siswanya di SMA Woodrow Wilson, Kota Long Beach, California, Amerika Serikat, pada 1990-an. Waktu itu, kota tersebut sedang terjadi kekerasan geng dan ketegangan rasial. Mudah menyulut keributan dengan isu perbedaan warna kulit.

Erin Gruwell merupakan seorang guru baru mata pelajaran bahasa dan sastra. Di Wilson itu kali pertamanya dia mengajar. Wajah menggelora dan sumringahnya di hari awal masuk kelas sontak berubah. Anak-anak didiknya ternyata bengal dan hampir pemberang semua, membandel, serta melawan.

Semangat pendidikan literasi dalam film arahan sutradara Richard Lagravenese ini menjelas tatkala Erin Gruwell mengarahkan anak-anak didiknya menggauli teks dengan intensif tetapi mesra, menyenangkan. Meski sulit dan berbusa-busa bagi Gruwell, teks lantas perlahan-lahan menjadi sesuatu yang terlibat dalam hidup mereka: anak-anak itu membaca dan kemudian menulis dengan sungguh-sungguh.

Diarahkan oleh lbu Gruwell untuk penasaran dengan holocaust dan geng bernama Nazi yang ternyata fasis dan amat sangat tidak humanis, mereka pun membaca catatan harian Anne Frank. Si ibu memang cerdik; terjadilah proses identifikasi. Mereka yang sudah jinak-jinak merpati itu pun lantas merasa sama dengan Anne Frank tengah menghadapi dunia yang mengimpit, mengancam, meneror dengan gilanya. Tetapi seperti Anne, mereka jadi percaya diri untuk bisa terus hidup menatap masa depan yang cerah gara-gara membaca dan menulis.

Tentu saja tidak sesederhana itu. Yang menonton film keluaran 2006 ini mungkin bisa mengerti bagaimana segerombolan murid bengal jadi keranjingan menulis catatan harian. Kepada diary-nya masing-masing, mereka mengisahkan diri sendiri apa adanya. Tentang masa kecil yang kebanyakan penuh teror, keluarga yang berantakan kayak tembikar pecah, harapan yang seakan terus saja menjauh seperti batas cakrawala bila dikejar. Dan, pelan-pelan mereka lebih mengenali dan kemudian membentuk identitas diri sebagai manusia berkat, salah satunya, persentuhan dengan dunia literasi. Pelan-pelan, ada yang sadar untuk pulang ke rumah dan kembali tersenyum kepada ibunya setelah lama memilih tinggal di jalanan karena amarah; semacam polah rekonsiliasi. Ada yang diam-diam membuang pistolnya ke selokan. Ada yang tidak lagi mengagung-agungkan gengnya sendiri meski jadi dimusuhi. Dan di ruangan 203 (nomor ruangan kelas mereka di Wilson), mereka menjadi suatu "keluarga". Mereka mengenal satu dengan Iainnya.

Tertarik lebih jauh oleh wacana holocaust, mereka bersama-sama mengunjungi Museum Toleransi Simon Wiesenthal di New Port Beach. Di sana, mereka mendapatkan cerita sejarah yang mengenyangkan tentang bencana rasialisme. Tidak berhenti sampai di sana, lebih jauh Ibu Gruwell memfasilitasi murid-muridnya bertemu dengan orang-orang yang selamat dari kekejaman Nazi. Kemudian, diceritakan Ibu Gruwell menukar tugas mengulas buku Anne Frank dengan menulis surat ke Miep Gies—perempuan yang menolong keluarga Anne bersembunyi dari kejaran Nazi—yang masih hidup di Eropa. Lalu saking semangatnya, murid-murid ruangan 203 pun keukeuh ingin mengundang Miep Gies berkunjung ke Wilson buat mengisi suatu acara bincang santai. Didukung koran lokal yang menyebar kabar, mereka menggelar pelbagai acara untuk pengadaan dana: hari kuliner, bazar barang-barang, konser musik amal.

Suatu kesadaran kolektif yang positif kita lihat telah terbangun dengan mantap. Di titik itu, peran mengonsumsi dan memproduksi teks sangat besar: (teks yang ternyata bukan hanya tulisan) lingkungan adalah teks, perang antargeng adalah teks, diri sendiri adalah teks, Anne Frank dan Miep Gies adalah teks; masa lalu, masa kini, dan masa depan adalah teks yang senantiasa menunggu untuk dihidupkan, ditarungi, diwarna-warnikan. Dan dengan sebuah kesadaran baru, sekelompok pemuda sukses keluar dari lingkaran kekerasan yang banal dan rawan. (Wildan Nugraha)***

Penulis:
Back