Berenang, dari Olah Raga Hingga Terapi
Ada banyak alasan mengapa renang dijadikan bahasan khusus kali ini. Kendati semua olah raga baik, ada kespesialan dalam olah raga yang dianjurkan oleh Nabi Muhammad ini. Selain sebagai keterampilan yang diperlukan sepanjang usia, renang merupakan terapi kesehatan yang sangat bermanfaat. Tetapi orang tua perlu hati-hati memperkenalkannya kepada buah hati.
Olah raga renang sangat populer dan digemari keluarga. Terbukti dengan selalu penuhnya kolam renang sebagai tempat rekreasi keluarga. Di sela-sela kepadatan kolam dengan orang yang berenang sendiri-sendiri atau sekadar bermain air, selalu ada orang yang belajar berenang. Orang tua mengajarkan kepada anak, teman mengajari sesamanya, atau yang lebih banyak lagi adalah pelatih profesional yang mengajari anak didik.
"Setiap hari rata-rata saya mengajari 10 anak," kata Hanafi (44), pelatih renang di kolam renang Batununggal Bandung. Setiap hari selama sebulan, Hanafi nyaris tak pernah keluar dari kolam. Selalu ada saja orang tua datang, memintanya mengajarkan keterampilan renang pada anak-anaknya. Permintaan tersebut akan meningkat pada hari libur sekolah seperti sekarang.
Itu juga yang dilakukan Lili Setiawati (37) seorang konsultan asuransi di Bandung. Pada liburan ini ia menyempatkan diri mengantar anak-anaknya, Josephine (11) dan William (6) les berenang.
"Mumpung mereka lagi libur," kata Lili yang menunggui buah hatinya sambil membaca buku.
Menurut Lili, di sekolah anak-anaknya tidak ada pelajaran renang. Namun ia merasa harus membekali mereka dengan olah raga ini. Lili tahu persis manfaat renang, karena ia juga bisa berenang.
"Sampai gede, renang pasti mereka perlukan. Selain itu, renang bagus juga buat kesehatan," ujar Lili.
Pelajaran wajib
Kendati tak bisa berenang, Dais Halimah (35), ibu rumah tangga penduduk Kompleks Taman Cibaduyut Bandung juga mengakui pentingnya berenang. Ia berencana menyerahkan pendidikan renang anak sulungnya Agni (10) pada seorang pelatih renang di dekat rumahnya. "Soalnya di sekolah ada pelajaran renang," kata Dais.
Niat Dais adalah potret kebanyakan kaum ibu saat ini. Kendati hampir di semua di sekolah ada pelajaran berenang, namun umumnya kaum ibu mengikutkan anaknya les privat, pada pelatih profesional di kolam renang atau pada guru olah raganya. Berdasarkan pengalaman banyak orang tua, menyerahkan pengajaran berenang kepada guru olah raga di sekolah tidak terlalu efektif. Bagaimana tidak, pelajaran renang di sekolah dasar biasanya hanya dikomandoi seorang guru yang memimpin sebuah kelas yang berisi 30 hingga 40 murid! Alhasil pelajaran yang biasanya mulai diberikan di kelas 3 SD itu menjadi sekadar rekreasi air.
Menurut Hanafi, kelas renang yang efektif paling banyak beranggotakan 4 orang. Berbeda dengan beberapa olah raga lain yang bisa dicontohkan secara massal, pelajaran renang lebih ke arah privat. Satu per satu murid perlu dipandu untuk membuat gerakan yang benar. Guru renang harus mondar-mandir mendampingi siswa dari pinggir kolam ke sisi yang lain. Setelah beberapa kali menggunakan papan peluncur sebagai alat bantu, seorang guru renang juga harus sigap "menangkap" murid yang sudah mulai bisa meluncur tanpa alat bantu. Ya, perhatian ekstra hati-hati ini diperlukan mengingat risikonya. Selain menyenangkan, berenang juga menimbulkan risiko tenggelam. Itulah sebabnya pelajaran ini lebih baik dipelajari secara individu.
"Tadinya pelajaran renang anak saya percayakan di sekolah. Sampai kelas 5, anak saya tetap tidak bisa. Akhirnya saya minta les privat pada guru sekolah. Eh, dua bulan dia sudah bisa gaya katak," kata Winarti (40).
Usia tepat
Belajar gaya katak selama dua bulan, dengan perhitungan sebulan empat kali pertemuan dengan waktu 1 jam, sebenarnya bisa masuk kategori lama. Menurut Hanafi, jika anak sudah tidak takut air, anak umur 6 tahun bahkan cukup belajar gaya katak selama sebulan.
"Umur enam tahun adalah waktu yang paling tepat untuk belajar renang," kata Hanafi. Di kalangan pelatih renang, pendapat ini sudah merupakan pengetahuan umum. Engkus, pelatih renang di kolam renang Taman Kopo Indah Bandung menyebutkan hal yang sama. "Ya, minimal usia taman kanak-kanak lah. Paling dini usia 5 tahun," kata Engkus.
Dokter kesehatan olah raga, Iyan Apriyana, membenarkan teori ini. "Usia paling tepat adalah saat anak berumur 6 tahun. Di bawah usia itu, hanya untuk memperkenalkan air atau sekadar bermain-main dengan air, supaya ia tidak takut terhadap air," ujar Iyan yang bertugas di Balai Kesehatan Olah Raga Masyarakat Jawa Barat ini.
Bayi?
Sebuah pendapat yang berbeda sempat diluncurkan kepada masyarakat bahwa semakin dini belajar, semakin baik. Bahkan, bayi berumur belum mencapai setahun pun boleh.
"Mungkin ada gerak refleks bayi ketika dimasukkan ke air, tetapi bukan berarti dia bisa berenang. Tidak sedini itu," kata Iyan.
Apa yang disebut "berenang" bagi bayi oleh para pakar kesehatan atau olah raga bukan berenang dengan teknik yang benar. "Sekadar bermain dengan air, menggunakan pelampung atau digendong orang tuanya," kata Iyan.
Menurut Iyan, pembatasan usia minimal 6 tahun itu adalah berdasarkan kemampuan motorik anak yang sudah jauh lebih baik dibandingkan dengan usia sebelum itu. "Di bawah usia 6 tahun, motorik anak belum sempurna. Ia belum bisa mengepakkan atau menendangkan kakinya untuk mendapatkan teknik berenang," ujar Iyan yang juga mantan atlet renang tingkat kejuaraan tingkat Jabar.
Beberapa orang tua yang tak mengetahui "peraturan" usia ini sering salah langkah. Berharap anak cepat bisa berenang, banyak di antaranya segera mengirim putra-putrinya pada pelatih renang sedini mungkin. Bunga (17) salah seorang "korban" ketidaktahuan orang tua tentang usia tepat mengajarkan anak berenang. Saat umur 4 tahun, ia sudah diberi les berenang.
"Hampir delapan bulan baru bisa. Itu juga belum benar gayanya. Akhirnya orang tua menyuruh saya berhenti dulu. Dilanjutkan saat kelas 3 SD. Baru sebulan, akhirnya saya bisa gaya katak," kata Bunga bercerita. Walaupun begitu dia bersyukur mendapat les berenang saat masih usia dini. "Minimal saya jadi tidak takut air. Jadi waktu les yang ke dua kalinya, saya sudah sangat siap," kata Bunga.
Menurut Hanafi, berdasarkan pengalamannya mengajar renang ia melihat anak umur 6 tahun bisa menguasai sebuah gaya dengan waktu sebulan atau 4 kali pertemuan. Sementara itu, anak umur 5 tahun bisa memakan waktu 4 bulan, sedangkan umur 4 tahun bisa sampai 6 bulan.
Namun pada beberapa anak, terdapat keistimewaan. Jika mau memiliki modal sabar, ulet, dan berani, bahkan umur 3 tahun seorang anak bisa lancar berenang. Hover Setiawan mengaku anak semata wayangnya, Gilbert, sudah lancar berenang sejak usia 3 tahun.
"Saya suka sekali olah raga ini. Jadi saya ingin Gilbert sudah bisa berenang sejak kecil," kata Setiawan yang pengusaha komputer ini. Belajar sejak dini, malah membukakan peluang Gilbert menjadi atlet. Pada Pekan Olahraga Kota (Porkot) Bandung 2008, Gilbert berhasil menjadi juara pertama renang.
Sehat dan jangkung
Umumnya orang tua menginginkan kemampuan renang anak selain sebagai upaya penyelamatan diri dalam air yang dalam, juga untuk membentuk kesehatan anaknya. Apa yang diharapkan para orang tua ini tidak berlebihan. Iyan menyebutkan, olah raga ini memang mampu meningkatkan daya tahan tubuh anak terhadap penyakit. "Gerakan renang melibatkan hampir semua otot tubuh. Ini bermanfaat bagi kesehatan, menjaga tubuh tetap bugar" kata Iyan.
Banyak orang tua memberikan olah raga renang dengan harapan pertumbuhan tulang anak menjadi bertambah alias anak menjadi lebih tinggi. Ahli tulang dari Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung, Dr. dr. Hermawan Nagar Rasyid Sp.O.T.(K), M.T. , menyebutkan hal ini bukan harapan sia-sia.
"Berdasarkan penelitian pada sejumlah tikus, diperoleh hasil tulang yang lebih memanjang pada tikus yang disuruh berenang terus menerus selama sebulan, dibandingkan dengan tikus yang tidak berenang," kata Hermawan.Dari penelitian tersebut, ditemukan hasil berat atau massa tulang tikus yang berenang bertambah 19 %, volume tulang 11 %, dan tinggi 2,8 %.
Penelitian ini juga sangat signifikan pada manusia. "Pertambahan tinggi badan ini disebabkan oleh saat berenang tubuh banyak mendapat suplai oksigen. Hal ini merangsang pertumbuhan tulang, yang pusat pertumbuhannya terdapat pada daerah lutut," kata Hermawan.
Sebagian orang tua lainnya, mengirim anaknya ke kolam renang sebagai terapi bagi penyakit asma yang diderita buah hati. Untuk terapi asma ini, dr. Ina Rosalina, Sp.A.K. , M.H.Kes. menegaskan, berenang memang bisa membantu penderita tetapi bukan mengobati. "Lebih untuk membantu mencegah asma kambuh," kata Ina.
Menurut Ina, karena daya tahan tubuh meningkat, kemungkinan kambuh asma menjadi berkurang. "Berenang bagus untuk penderita asma, karena mampu memperkuat otot-otot organ penapasan yaitu paru-paru," tutur Ina.
Selain sisi positif, ada pula dampak negatif dari olah raga renang ini. Menurut Iyan, olah raga renang bersifat individualistik. Untuk mencegah karakter individualistik pada anak, selain berenang sebaiknya anak diberi keseimbangan dengan memperkenalkannya juga pada olah raga lain yang bersifat kerja sama, seperti basket.
Risiko lain yang harus dihindari adalah cedera tulang akibat renang. "Ini hanya terjadi pada mereka yang over-use (berlebihan). Sebaiknya berenang tidak lebih dari satu jam," kata Hermawan. Cedera tulang biasanya terjadi pada gaya bebas, punggung atau kupu-kupu. Pada gaya bebas dan punggung gerakan tangan bisa membuat cedera tulang bahu. Sedangkan pada gaya kupu-kupu bisa membuat cedera pada tulang belakang.
Dari segi bakteri dan kuman? "Jangan khawatir, biasanya air di kolam renang sudah menggunakan kaporit yang berfungsi membunuh kuman dan bakteri. Selain itu, karena di udara terbuka, matahari juga membantu membunuh kuman," kata Ina. (Uci Anwar) ***
Penulis: