• Selasa, 09 Februari 2010
  •                     |                         
  • PR Online
  • Home
  • Pikiran Rakyat Cetak
  •                          |

E-PAPER

  • screenshoot pr cetak

OLE-OLE

 
si kabayan

CUACA BANDUNG

Utara Timur Selatan Barat Tengah
Sumber: BMG Bandung

JADWAL SHOLAT

Bandung & Sekitarnya
Subuh 04:34 WIB
Zuhur 12:06 WIB
Asar 15:23 WIB
Magrib 18:18 WIB
Isya 19:29 WIB

TUNGGU DULU

PENGELOLA program TV I’m a Celebrity...Get Me Out of Here! versi Jerman menghadapi tuntutan hukum atas matinya tiga ikan emas. Gugatan diajukan setelah bintang idola remaja, Daniel Kueblboeck melakukan atraksi menantang menggunakan sejumlah ikan emas dan laba-laba air. Akibat atraksinya itu, tiga ikan emas mati tergencet. Meskipun acara itu memiliki "rating" cukup tinggi, Departemen Kehakiman menegaskan hal itu adalah pelanggaran karena binatang mendapat perlindungan hukum. Atraksi itu telah membuat citra buruk dan mengabaikan martabat manusia. (Ananova)***

Memasak dengan Solar, Sebagian Pilihan

MENGHILANGNYA minyak tanah nonsubsidi dari peredaran disikapi masyarakat dengan beragam. Mahalnya harga elpiji membuat sebagian kalangan masih belum sanggup beralih ke jenis bahan bakar yang satu itu. Tak heran bila banyak masyarakat yang mengganti minyak tanah dengan kayu bakar sebagai bahan bakar.

Namun, ada pula sebagian masyarakat yang beralih ke solar sebagai bahan bakar di dapur. Memang terdengar tidak lazim, tetapi cara ini mulai banyak dilirik.

Salah satunya Yayah. Warga RT 5 RW 2 Desa Laksana Mekar Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat ini, sudah sepekan beralih menggunakan solar untuk bahan bakar memasak di dapur. Cara penggunaan solar untuk bahan bakar memasak ini, diperoleh Yayah dari seorang kenalannya yang berdagang mi ayam.

"Ia menyarankan untuk pakai solar karena minyak tanah sudah jarang dijual di pasaran, sekalipun ada harganya mahal, bisa sampai Rp 8.000,00 untuk satu liternya," kata Yayah, yang dijumpai di kontrakannya, Sabtu (6/9).

Yayah mengaku, awalnya ia sempat takut untuk mencoba saran tersebut. Namun, karena asap dapurnya harus tetap mengepul untuk memasak makanan yang akan dijajakan di warung nasinya, mau tak mau ia pun mulai mengikuti jejak kenalannya tersebut.

Saat pertama kali mencoba, Yayah sempat kebingungan. Sebab, nyala kompornya tak kunjung besar. Apinya kecil walaupun sumbu kompor sudah dipasangnya sampai maksimal. Yayah juga baru tahu, memasak dengan menggunakan solar bisa membuat sumbu kompor boros.

"Sekali pakai bisa langsung habis kalau dipasang maksimal, saya akali dengan memasang api yang sedang saja, yang penting stabil," ujarnya, sambil mengolah bahan makanan yang akan dijajakannya hari itu.

Dengan trik tersebut, sumbu kompor bisa awet hingga satu minggu penggunaan.

Setelah seminggu mencoba, Yayah pun mulai terbiasa memasak menggunakan solar sebagai bahan bakar. Keluhannya hanya satu, yaitu asap yang membubung tebal tiap kali kompor dimatikan seusai memasak. Asap baru bisa hilang dalam waktu yang cukup lama, itu pun harus dengan bantuan kipas angin untuk melancarkan kembali sirkulasi udara di dapurnya.

Selain itu, rasa masakan olahannya kini pun dirasakan Yayah agak sedikit berbeda. "Agak bau asap," ucapnya.

Untuk menghilangkan bau asap, Yayah mengakalinya dengan memakai lebih banyak bumbu. Pelanggan pun jarang ada yang menyadari akan rasanya.

Setiap harinya, Mahwi sang suami, bertugas mencari dua liter solar ke SPBU terdekat. Solar seharga Rp 5.500,00 itu dianggap cukup murah, daripada harus mengeluarkan lebih banyak biaya untuk membeli minyak tanah yang harganya melambung tinggi dan sudah jarang ditemui di pasaran.

Namun, minyak tanah pun tetap digunakan Yayah untuk menjadi campuran bahan bakar solar. Perbandingannya 2:1 untuk memasak sejumlah menu makanan mulai dari pukul 10.00 WIB sampai 16.00 WIB.

Yayah bukan tidak ingin beralih ke kompor gas, seperti warga kebanyakan lainnya. Namun apa daya, satu set kompor gas, lengkap beserta tabungnya tidak mampu dibelinya. Keinginan untuk memperoleh kompor gratis cuma-cuma yang menjadi bagian dari program konversi bahan bakar harus dikuburnya dalam-dalam. Sebab, ia hanyalah warga pendatang asal Majalengka yang luput dari jatah pembagian kompor gas.

"Kalau sudah ada uang cukup, saya akan beli kompor gas. Tetapi, kalau belum ada, saya ingin minyak tanah tetap murah dan gampang ditemui di pasaran," katanya. (Riesty)***

Penulis:
Back