Selama Ini Menjadi Nama Jalan Tanpa Dasar yang Jelas
Sejarah Para Tokoh Bekasi Perlu Diteliti Kembali
JULUKAN Kota Patriot yang disandang Kota Bekasi terlihat jelas dari banyaknya nama tokoh pejuang sebagai nama jalan. Dari 37 jalan protokol yang ada di Kota Bekasi, 15 di antaranya menggunakan nama pejuang nasional, 11 memakai nama tokoh pejuang lokal, dan sisanya 23, diberikan nama lainnya.
Ke-11 nama pejuang lokal yang namanya diambil sebagai nama jalan adalah, Mayor Oking, K.H. Abdurahman, K.H. Mochtar Tabrani, Sersan Hamjah, Letnan Marsaid, Sersan Aswan, Sersan Sarbini, Letnan Arsad, Serma Marzuki, Sersan Idris, dan Mayor Madmuin Hasibuan.
Tidak ada data yang pasti tentang riwayat ke-11 tokoh dan kiprah mereka terhadap Bekasi, sampai nama mereka dijadikan nama jalan. Menurut Ucu Samsudin, Kabag Hukum Pemkot Bekasi, pemberian nama jalan ini dilakukan pada masa pemerintahan Kabupaten Bekasi. Di Kota Bekasi sendiri tidak ada dokumen yang memberikan keterangan soal itu. Begitu pun ketika dikonfirmasikan ke Bagian Hukum Kabupaten Bekasi.
Menurut staf Bagian Hukum Pemkab Bekasi, Rusminah, memang pemberian nama jalan biasanya berdasarkan Surat Keputusan Bupati. Namun kapan pastinya SK diterbitkan, Rusmiah juga menyerah untuk menjawabnya. "Wah, itu sudah lama sekali. Jadi kita sama sekali tidak tahu, entah masih ada atau tidak datanya,"kata Rusminah.
Komandan Dandim 0507 Bekasi, Letkol Moh. Affandi, juga tidak mengetahui tentang hal tersebut. Menurutnya, pemberian gelar pahlawan dikukuhkan melalui Keputusan Presiden. Sedangkan nama penghargaan kepada tokoh pejuang lokal menjadi kewenangan pemerintah daerah setempat.
Moh. Affandi menyatakan keyakinannya bahwa pemberian nama jalan dengan nama pejuang yang ada di Bekasi bukan tanpa alasan."Pasti ada yang melatarbelakanginya, terutama terkait dengan kiprah mereka terhadap Bekasi,"kata dia. Ia menambahkan, kata pejuang atau pahlawan jangan diartikan sempit hanya dari sudut pandang peperangan, tapi juga melingkupi orang yang memberi kontribusi besar di bidangnya masing-masing.
Menurut Kepala Dinas Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat Kota Bekasi, Zakki Oetomo, sejarah tokoh-tokoh tersebut sebenarnya sudah pernah dibuat. Zakki mengatakan pernah membaca sejarah beberapa tokoh, seperti Mayor Oking dan Madmuin Hasibuan, tapi memang belum ada dokumentasi dalam satu buku.
Ia pun menuturkan, sampai saat ini, belum ada santunan atau penghargaan yang diberikan kepada ke-11 tokoh tersebut. Kalaupun ada, santunan hanya diberikan kepada mereka yang masih hidup. "Mungkin data lengkapnya ada di arsip nasional, "ujar Zakki, memperkirakan.
Bukti otentik
Ali Anwar, sejarawan Bekasi, mengatakan, sejauh ini dirinya belum menemukan bukti otentik tentang kiprah para tokoh yang dijadikan nama jalan tersebut. Awal pemberian nama jalan umumnya merupakan inisiatif tokoh masyarakat. Misalnya jalan-jalan yang ada di daerah Kampung 200, diberikan oleh Zakaria dan Abu Choir, yang tidak lain adalah kawan seperjuangan. Pada perkembangannya, nama-nama jalan ini kemudian dikukuhkan oleh Pemerintah Daerah Bekasi di era tahun 1960-1970an.
Lalu siapakah ke 11 tokoh tersebut? Nama-nama tersebut saat ini hanya berupa papan jalan tanpa makna, tidak ada kisah yang bisa dituturkan. Jika pun ada hanya beberapa nama yang masih bisa dilacak latar belakangnya. Itu pun sepotong-sepotong dan masih perlu dikaji lebih mendalam.
Mayor Madmuin Hasibuan misalnya, adalah salah seorang komandan angkatan laut asal Sumatra Utara yang datang untuk membantu perjuangan K.H. Noer Ali di tahun 1945. Hasibuan kemudian bergabung di Partai Masyumi dan duduk sebagai Ketua DPRD pertama di Bekasi. Makamnya saat ini berada di belakang Masjid Al Barqah Bekasi.
Mayor Oking, beberapa sumber menyebutkan merupakan pejuang yang bergerilya di daerah Bekasi, Bogor hinga Sukabumi. Tidak heran jika di tiga kota tersebut ada Jalan Mayor Oking. Namun biografi perjuangannya masih samar.
K.H. Abdurahman dan K.H. Mochtar Tabrani, merupakan tokoh ulama se-zaman dengan K.H. Noer Ali. Keduanya konsen di ranah dakwah dan pendidikan Islam. K.H. Mochtar Tabrani mendirikan Pondok Pesantren An`Nur sedangkan K.H. Abdurahman mendirikan madrasah di daerah Rawa Tembaga.
Sebenarnya masih ada K.H. Muhajirin yang juga turut berjuang bersama K.H. Noer Ali. Namun namanya belum diabadikan menjadi nama jalan. Moh. Husen Kamaly bahkan mencatat ada sekitar 80 orang tokoh pejuang yang tersebar di seluruh Bekasi.
Ketidakjelasan sejarah nama pejuang ini tentu menimbulkan kerancuan. Menurut Ali Anwar, seharusnya perlu diadakan penelitian lebih lanjut berkaitan dengan tokoh-tokoh pejuang yang ada di Bekasi sehingga kejelasan fakta sejarah bisa terungkap.
Pasalnya, perlu ada identifikasi apakah tokoh tersebut benar-benar pejuang atau hanya seorang pecundang. Selain itu juga ada penghargaan kepada para ahli waris."Seharusnya ini menjadi tugas pemerintah daerah," kata Ali.
Andi Sopandi, Kepala Pusat Kajian Sosial Budaya FISIP Unisma Bekasi mengatakan, penulisan sejarah tentang Bekasi hanya pada sebatas serpihan jejak sejarah dan belum menelaah kiprah ketokohan di dalamnya. Menurut Andi, penulisan biografi tokoh pejuang perlu dilakukan dengan hati-hati untuk menghindari subjektivitas. Tokoh sejarah harus dipahami sebagai orang yang memberi kontribusi dalam perubahan sosial politik.
Pemberian nama jalan yang diambil dari nama tokoh, menurut Andi, sangat bergantung pada kekuatan ketokohan seseorang. Tapi juga tidak bisa dilepaskan dari kekuatan politik di dalamnya. "Perlu diadakan semacam lokakarya untuk mengidentifikasi para tokoh sejarah, "ujar Andi yang juga penulis buku Sejarah dan Budaya Bekasi. (JU-16)***
Penulis: