• Selasa, 09 Februari 2010
  •                     |                         
  • PR Online
  • Home
  • Pikiran Rakyat Cetak
  •                          |

E-PAPER

  • screenshoot pr cetak

OLE-OLE

 
si kabayan

CUACA BANDUNG

Utara Timur Selatan Barat Tengah
Sumber: BMG Bandung

JADWAL SHOLAT

Bandung & Sekitarnya
Subuh 04:34 WIB
Zuhur 12:06 WIB
Asar 15:23 WIB
Magrib 18:18 WIB
Isya 19:29 WIB

TUNGGU DULU

PENGELOLA program TV I’m a Celebrity...Get Me Out of Here! versi Jerman menghadapi tuntutan hukum atas matinya tiga ikan emas. Gugatan diajukan setelah bintang idola remaja, Daniel Kueblboeck melakukan atraksi menantang menggunakan sejumlah ikan emas dan laba-laba air. Akibat atraksinya itu, tiga ikan emas mati tergencet. Meskipun acara itu memiliki "rating" cukup tinggi, Departemen Kehakiman menegaskan hal itu adalah pelanggaran karena binatang mendapat perlindungan hukum. Atraksi itu telah membuat citra buruk dan mengabaikan martabat manusia. (Ananova)***

Dimungkinkan Membangun Alutsista Canggih Lainnya
Pindad Membuat Panser

Sekretaris Jenderal Dephan Letnan Jenderal TNI Sjafrie Sjamsoeddin (kiri) berbincang dengan mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Endriartono Sutarto sambil menunjukkan sistem kemudi Panser APC 6x6 buatan PT Pindad di pabrik perakitan panser Pindad, Jln. Gatot Subroto, Kota Bandung, Sabtu (21/2). Panser APC 6x6 merupakan projek pembuatan panser pertama di dalam negeri.*KRISHNA AHADIYAT/"PR"

Kemandirian dalam industri persenjataan bukanlah hal yang sulit bagi Indonesia. Bagaimana tidak, Indonesia memiliki sumber daya alam dan sumber daya manusia yang melimpah untuk membangun dan menyediakan kebutuhan sendiri.

Indonesia memang belum bisa membuat pesawat tempur sendiri atau kapal induk dengan persenjataan canggih sendiri. Namun melihat keberhasilan PT Pindad (Persero) membuat kendaraan tempur lapis baja militer terbaru, yaitu panser APC (armoured personnel carrier) 6x6, bangsa Indonesia pantas menggantang optimisme bahwa kemandirian sudah di depan mata. Prestasi ini merupakan kemajuan luar biasa dari suatu kemandirian.

Sekretaris Jenderal Departemen Pertahanan (Dephan) Letnan Jenderal TNI Sjafrie Sjamsoeddin seusai melakukan pengujian panser di Pindad, Jln. Gatot Subroto, Kota Bandung, Sabtu (21/2), mengaku bangga dengan panser APC 6x6 buatan Pindad tersebut.

"Berdasarkan spek teknis, panser APC buatan Pindad sudah memenuhi kelayakan operasional. Setelah mencoba dengan melakukan uji fungsi dan kelayakan, panser APC cukup capable dan memenuhi syarat untuk pelaksanaan tugas militer di bawah kendali PBB," katanya.

Secara data teknis dan berdasarkan pengujian panser APC 6x6 yang menggunakan transmisi otomatis itu dapat melaju dengan kecepatan tertinggi hingga sembilan puluh kilometer per jam dan sanggup melewati jalan dengan kemiringan enam puluh persen dan tanjakan 45 derajat dengan beban penuh.

Panser tersebut memiliki bobot (berat tempur) 14 ton dapat dilengkapi senapan mesin dengan putaran 360 derajat. Selain itu juga mampu mengangkut hingga tiga belas personel dengan seorang driver, seorang commander, dan seorang gunner. Panser ini memiliki enam roda penggerak dengan differential lock dan ban tahan peluru dengan tipe ramflet sehingga panser masih bisa jalan dengan ban kempes selama dua jam dengan kecepatan aman empat puluh kilometer per jam.

Dengan melihat hasil pengujian dan kelaikan, Sjafrie mengatakan, Departemen Pertahanan akan tetap berusaha menjadikan Pindad sebagai salah satu pabrik untuk membangun dan mengembangkan alutsista (alat utama sistem pertahanan) khususnya dalam pengadaan panser. "Bahkan bila melihat perkembangan sekarang, negara lain memungkinkan membeli panser dari Pindad," ujarnya menambahkan.

Projek pertama

Menurut Direktur Utama PT Pindad Adik Avianto Sudarsono panser APC 6x6 merupakan projek pembuatan panser pertama di dalam negeri karena sebelumnya panser selalu impor. "Desain panser APC 6x6 adalah seratus persen hasil karya anak bangsa dan itu merupakan kebanggaan bagi bangsa Indonesia," kata Adik.

Pindad memproduksi beberapa panser dengan beberapa tipe. Di antaranya, tipe komando, tipe angkut, dan ambulans. Sedangkan tipe canon yang dilengkapi persenjataaan berat masih dalam tahap pengembangan. "Desain panser Pindad 100 persen mengacu pada referensi dari TNI agar sesuai standar internasional untuk kendaraan operasional tempur," ujarnya.

Kepala Humas Pindad, Timbul Sitompul mengatakan, APC 6x6 adalah murni buatan Pindad hanya beberapa komponen seperti mesin, transmisi, dan alat elektroniknya masih buatan luar.

Menurut dia, cikal bakal panser APC sebenarnya ada saat Pindad merakit tank Scorpio buatan Prancis. Setelah itu, Pindad kemudian membuat kendaraan water cannon dan membuat kendaraan militer APR (angkut personel ringan) 4x4 (APR1V1) yang digunakan TNI dan Brimob.

"Kemudian tahun 2005, bekerja sama dengan BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi), Pindad memproduksi prototipe APS (angkut personel sedang) 6x4," ujarnya

Semenjak pemerintah ingin memberdayakan pemenuhan alutsista melalui industri dalam negeri, Pindad mulai merancang dan memproduksi sendiri prototipe panser APC 6x6. Berdasarkan uji pabrik, uji fungsi, dan uji coba Dislitbang Angkatan Darat, panser tersebut sudah memenuhi standar internasional.

Dephan sendiri telah memesan sebanyak 150 unit panser APC 6x6 dan 4 unit panser intai 4x4 dengan kontrak multiyears yang ditandatangani Juni 2008. Sebanyak dua puluh unit sudah diserahkan secara administrasi.

Dengan melihat kemampuan sekarang dan tanpa adanya kendala pengiriman beberapa komponen, menurut Adik, Pindad dapat memproduksi panser APC 6x6 sebanyak dua puluh unit tiap bulan.

"Pindad optimistis dapat menyelesaikan sisa pesanan 134 unit panser hingga akhir masa kontrak Desember 2009," katanya.

Timbul Sitompul selanjutnya mengatakan, "Berdasarkan uji pabrik, uji fungsi, dan uji coba Dislitbang Angkatan Darat panser APC 6x6 tersebut sudah dinyatakan lolos uji dan memenuhi standar Internasional. Dan dua puluh unit panser tersebut rencananya akan diserahkan secara simbolis, Jumat (27/2), di Pindad," ujarnya menambahkan.

Bila melihat kemampuan dalam negeri rasanya Indonesia tidak perlu diragukan lagi dan harus percaya terhadap kemampuan teknologi sendiri khususnya dalam industri pertahanan dan keamanan.

Mungkin hanya tinggal kerja sama dan rasa saling percaya di antara segenap komponen bangsa terhadap kemampuan dalam negeri yang dapat mewujudkan kekuatan sekaligus pertahanan bangsa. (Krishna Ahadiyat/"PR"/Resty)***

Penulis:
Back