• Selasa, 09 Februari 2010
  •                     |                         
  • PR Online
  • Home
  • Pikiran Rakyat Cetak
  •                          |

E-PAPER

  • screenshoot pr cetak

OLE-OLE

 
si kabayan

CUACA BANDUNG

Utara Timur Selatan Barat Tengah
Sumber: BMG Bandung

JADWAL SHOLAT

Bandung & Sekitarnya
Subuh 04:34 WIB
Zuhur 12:06 WIB
Asar 15:23 WIB
Magrib 18:18 WIB
Isya 19:29 WIB

TUNGGU DULU

PENGELOLA program TV I’m a Celebrity...Get Me Out of Here! versi Jerman menghadapi tuntutan hukum atas matinya tiga ikan emas. Gugatan diajukan setelah bintang idola remaja, Daniel Kueblboeck melakukan atraksi menantang menggunakan sejumlah ikan emas dan laba-laba air. Akibat atraksinya itu, tiga ikan emas mati tergencet. Meskipun acara itu memiliki "rating" cukup tinggi, Departemen Kehakiman menegaskan hal itu adalah pelanggaran karena binatang mendapat perlindungan hukum. Atraksi itu telah membuat citra buruk dan mengabaikan martabat manusia. (Ananova)***

Saya Ingin Bayi Ular, Bolehkah?

Guillame lagi-lagi mau binatang baru. Ibunya jelas kaget. Setelah hamster, kura-kura, ikan-ikan merah, dan dua ekor kucing, Ibu Guillame tak mengerti binatang apa lagi yang Guillame inginkan. Apalagi binatang impiannya adalah gajah. Hanya bayi gajah.

BEGITULAH Guillame dalam buku cerita anak Prancis, Un éléphant, c’est épatant!, karya Geneviève Laurencien dengan Hervé Blondon sebagai ilustratornya. Guillame adalah tokoh cerita anak yang dibuat oleh orang dewasa. Dan jelas Geneviève membuat ceritanya dengan memperhitungkan aspek sosial, kultural, dan edukasi yang sesuai dengan target pembaca. Sebuah konsep klasik yang mesti dipahami oleh setiap penulis literatur anak. Persoalannya, apakah Geneviève mampu meramu ceritanya agar semua aspek tersebut tak membebani anak? Geneviève tentu ingin karyanya menjadi kenangan yang menyenangkan bagi setiap orang. Riang saat menceritakannya kembali kepada yang lain.

Geneviève berhasil. Dia menghasilkan tokoh anak yang punya mimpi tak terbatas, Guillame. Guillame ingin bayi gajah yang ingin ia rawat sampai besar yang kemudian membantunya dalam banyak hal: merapikan mainan-mainannya, mengantarnya dalam sebuah perayaan Mardi Gras , bahkan membersihkan piring-piring kotor ketika ibu Guillame mulai lelah.

Un éléphant, c’est épatant! hanyalah representasi literatur anak Barat. Geneviève dan juga penulis literatur anak Barat lainnya seirama dengan apa yang disampaikan oleh Emer O’Sullivan (2005) dalam buku Comparative Children’s Literature. Emer mengatakan keistimewaan literatur anak tidak terdapat pada level teks, tapi pada level aksi dan keterlibatan tokoh. Teks bisa saja mendistorsi nilai moral yang terkandung dalam cerita. Seorang anak tentu lebih memahami kalimat "membelikan balon buat adik yang sedang menangis" ketimbang "berbuat baiklah pada saudaramu". Geneviève sendiri memilih Guillame beraksi memelas pada ibunya untuk dibelikan bayi gajah, ketimbang belajar tekun di kamar sunyi yang hanya bercahayakan lampu meja.

Memohon bayi gajah tidak lebih buruk dibanding belajar tekun. Memelihara bayi gajah adalah mimpi bagi Guillame. Dan mimpi mengajarkan anak untuk bercita-cita, sebesar apapun, seliar apapun. Tak perlu takut, atau bahkan melarang seorang anak bermimpi. Tiap anak tentu akan belajar bagaimana seharusnya berkeinginan sesuai dengan perkembangan psikologinya.

Literasi anak Indonesia sendiri seringkali banal. Ia sibuk pada level teks, tanpa mempersoalkan pengaruh aksi dan keterlibatan tokoh terhadap pembaca. Cerita anak Indonesia tidak jauh dari kata ‘jujur’, ‘menghargai’ atau pesan moral lainnya yang disampaikan begitu saja, tanpa menggali ide cerita yang mestinya bertutur sesuai dengan dunia anak. Parahnya lagi, sebagian literasi anak tersebut masih saja dilengkapi hikmah di akhir cerita.

Kedangkalan literasi anak Indonesia akan melahirkan anak-anak yang takut akan banyak hal, termasuk takut bermimpi. Anak Indonesia tidak dapat menikmati dunia dalam pikirannya yang seharusnya mereka miliki. Imajinasi mereka ditahan oleh sesuatu yang masih abstrak. Keliaran mereka dikerangkeng oleh sanksi-sanksi moral yang seringkali dijadikan alasan ampuh si penulis cerita.Wajar, anak-anak Indonesia lebih memilih literasi anak terjemahan yang kemudian dijawab oleh penerbit.

Penulis literatur anak Indonesia harus memahami bahwa prinsip komunikasi mereka berbeda dengan prinsip komunikasi anak. Selain cara berbahasa, orang dewasa memiliki pengalaman dan peran yang tidak sama dengan anak. Perbedaan ini dapat dijembatani melalui adaptasi bahasa dan ide cerita yang cocok dengan tingkat perkembangan dan kemampuan perbendaharaan yang dapat terima oleh anak. Göte Klingberg (1986) mendefinisikan adaptasi sebagai wujud pertimbangan literasi agar sesuai dengan minat, kebutuhan, reaksi, pengetahuan, kemampuan membaca, dan lainnya, yang dimiliki oleh pembaca.

Proses adaptasi yang jeli dan kreatif akan membuahkan cerita yang menarik bagi seorang anak. Setidaknya, dia betul-betul bisa gembira saat membaca sebelum ia tumbuh besar dan dunia menghampirinya dalam bentuk yang kejam. Senang rasanya jika melihat seorang anak berlari mendekat, meloncat ke pelukan, lalu berbisik: "Saya ingin bayi ular, Kak. Bolehkah?" (M. Arfah D., mahasiswa Program Studi Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan, Institut Teknologi Bandung 2004)***

Penulis:
Back