• Selasa, 09 Februari 2010
  •                     |                         
  • PR Online
  • Home
  • Pikiran Rakyat Cetak
  •                          |

E-PAPER

  • screenshoot pr cetak

OLE-OLE

 
si kabayan

CUACA BANDUNG

Utara Timur Selatan Barat Tengah
Sumber: BMG Bandung

JADWAL SHOLAT

Bandung & Sekitarnya
Subuh 04:34 WIB
Zuhur 12:06 WIB
Asar 15:23 WIB
Magrib 18:18 WIB
Isya 19:29 WIB

TUNGGU DULU

PENGELOLA program TV I’m a Celebrity...Get Me Out of Here! versi Jerman menghadapi tuntutan hukum atas matinya tiga ikan emas. Gugatan diajukan setelah bintang idola remaja, Daniel Kueblboeck melakukan atraksi menantang menggunakan sejumlah ikan emas dan laba-laba air. Akibat atraksinya itu, tiga ikan emas mati tergencet. Meskipun acara itu memiliki "rating" cukup tinggi, Departemen Kehakiman menegaskan hal itu adalah pelanggaran karena binatang mendapat perlindungan hukum. Atraksi itu telah membuat citra buruk dan mengabaikan martabat manusia. (Ananova)***

Perpustakaan di Belakang Gedung Merdeka

BARANGKALI di antara pembaca yang tinggal di Bandung masih ingat dengan sebuah perpustakaan di belakang Gedung Merdeka. Saya dulu waktu SMA cukup setia mengunjunginya. Tidak peduli berjalan kaki kalau uang bekal sudah habis. Dari Gardujati, sekitar dua puluh menit, saya berjalan ke arah timur melewati Alun-alun Bandung, lalu menyeberangi Sungai Cikapundung.

Perpustakaan itu merupakan Perpustakaan Daerah Jawa Barat. Satu perpustakaan umum yang dioperasikan dan didanai oleh pemerintah. Semula, Perpustakaan Daerah Jabar dibuka di Jln. Diponegoro, berdekatan dengan Kantor Gubernur. Sejak 1980, perpustakaan dipindahkan ke Jln. Cikapundung Timur 1, tepat di belakang Gedung Merdeka. Pada 1990, Pemprov Jabar membuka Badan Perpustakaan Daerah (Bapusda) Jabar di Jln. Soekarno-Hatta 629, agak ke pinggir kota sebelah timur.

Saya ingat, di perpustakaan Jln. Cikapundung Timur itu, saya membaca cerpen "Sepotong Senja untuk Pacarku" Seno Gumira Ajidarma. Dalam keheningan perpustakaan itu, saya menemukan keriuhan. Diceritakan, menyusul tokoh aku membolongi langit senja dengan pisau lipatnya, maka terdengar sirine polisi meraung-raung. Saat itulah seakan ruangan perpustakaan mendadak ramai. Kejar-kejaran mobil ala film Hollywood pun dimulai. Semua memburu tokoh aku yang mengantongi langit senja seukuran kartu pos, untuk dikirimkan kepada kekasihnya Alina. Ternyata, di dalam keheningan saya bisa menemukan juga banyak kegaduhan.

Ya, di perpustakaan itu saya asyik membaca buku, membangun imajinasi lewat bacaan. Mungkin saya mulai termakan ungkapan buku adalah jendela dunia. Lewat buku saya bisa melongok banyak tempat yang tidak secara langsung kukunjungi. Belakangan saya mengumpulkan buku-buku memoar perjalanan. Salah satunya dua jilid buku Sigit Susanto, Menyusuri Lorong-Lorong Dunia: Kumpulan Catatan Perjalanan (Insist, 2005 & 2008). Esai pengantar Puthut E.A. pada jilid I mengutip percakapan Ghoose dan Ashoke dalam novel The Namesake karya Jhumpa Lahiri. Kata Ghoose, "Selagi muda melangkahlah ke mana pun sesuka hati. Sebelum terlambat. Jangan terlalu banyak berpikir terlebih dahulu, segeralah kemas bantal dan selimut, lalu lihatlah dunia seluas mungkin yang dapat kau capai. Engkau takkan menyesal. Suatu hari itu akan terlambat." Lantas Ashoke menjawab, "Kakekku selalu mengatakan bahwa hal itulah fungsi sebuah buku. Untuk berpergian tanpa beranjak sedikit pun."

Akan tetapi, berbicara soal "berpergian", di perpustakaan itu saya ingat pernah tercengang-cengang membaca cerpen Putu Wijaya. Judulnya "Tempe" dalam buku Yel (Putaka Firdaus, 1995) yang tebal itu. Ceritanya, seorang penjual tempe ingin berhenti berjualan tempe dan ingin berjalan-jalan keliling Indonesia, tapi pelanggannya protes semua. Sampai-sampai didatangkan dua profesor dari luar negeri. Mereka memuji tempe sebagai makanan sehat dan murah. Lalu tukang tempe itu diangkat sebagai pahlawan. Dielu-elukan demikian tukang tempe menjadi sewot. Dia kemudian kabur ke tempat baru tanpa jejak. Di sana dia kembali berjualan tempe.

Saya ragu apakah harus ngakak atau bengong saja membaca ending cerita itu. Tapi, rasanya sayang bila membaca cerpen itu hanya buat tertawa atau tercenung. Dia bukan semata soal seorang tukang tempe atau soal tempenya. Bukan sekadar tentang seseorang yang mungkin merasa terjajah dan ingin merdeka lalu berlibur. Bila ternyata soal mental tempe yang dibicarakan Putu Wijaya, saya kebingungan siapakah sebenarnya yang bermental tempe. Bila bukan sedang di ruang publik, mungkin saya akan menaruh kaki di atas meja, merayakan rasa girang yang aneh dengan cara yang aneh pula. Berteriak takzim di sebuah perpustakaan, "Saya akan berhenti membaca buku!"

Tidak semua buku saya baca. Saya bukan pembaca yang rajin sebenarnya. Saya pun jarang membaca tamat sebuah buku dengan cepat. Di perpustakaan itu, saya melihat Tetralogi Buru Pramoedya Ananta Toer; Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca. Minatku surut saat membaca tulisan di cover bukunya, Novel Sejarah. Dulu kupikir, apa hubungannya cerita fiksi yang rekaan dengan kisah sejarah yang faktual.

Saya jadi ingat sebuah paragraf pada pengantar buku-buku sastra terbitan Yayasan Obor Indonesia awal tahun 1990-an. "Sastra yang baik," kata paragraf itu, "selalu merupakan cermin sebuah masyarakat. Sastra memang bukan tulisan sejarah dan juga tidak dapat dijadikan sumber penulisan sejarah. Akan tetapi, sastrawan yang baik akan selalu berhasil melukiskan dan mencerminkan zaman dan masyarakatnya."

Saat kemudian saya membaca Pramoedya, hubungan antarbanyak hal yang mungkin ditawarkan para pengarang macam dia berangsur terang di benakku. Salah satu novel dapat membantu orang memahami lebih utuh realitas sejarah dan itu bukan hanya atau untuk saat tertentu saja.

Bila suntuk dengan buku-buku sastra, saya suka meraih buku-buku komik. Seperti mungkin banyak remaja seumuranku, dulu saya gandrung dengan Asterix, Tintin, Lucky Luck, atau komik-komik Jepang: Dragon Ball, Kungfu Boy, termasuk Doraemon karya Fujiko F. Fujio. Saya menertawakan Nobita Nobi dalam hati. Ini anak cengeng mimpinya suka aneh-aneh. Lalu Suneo Honekawa, si anak orang kaya, perangainya sombong. Takeshi Goda atau Giant galak dan brutal. Dia punya hobi terpendam, menyanyi. Dia akan memaksa kawan-kawannya mendengarkan dan telinga mereka menjadi sakit. Lalu, Shizuka Minamoto. Kalau sudah besar, pasti menikah dengan Nobita. Tapi toh mereka tidak pernah beranjak besar. Tetap anak-anak SD di Jepang yang suka dipinjami baling-baling bambu, senter pengecil, pintu ke mana saja, dan alat-alat ajaib lainnya oleh Doraemon, si robot kucing gendut yang punya kantung ajaib. Fujiko F. Fujio piawai sekali menggabungkan dunia imajinasi anak dengan dunia nyata.

Bosan membumbungkan benak dengan fiksi, kadang saya melangkah ke depan rak buku-buku keagamaan. Dari koleksi buku-buku agama, saya suka membaca seri kisah hikmah yang diterbitkan Mizan atau Rosda. Satu yang membekas dalam ingatan saya adalah tentang seseorang di Mekah yang sering meludahi Nabi Muhammad bila Nabi berangkat ke masjid. Tatkala si peludah itu sakit, Nabi Muhammadlah yang pertama menjenguknya. Orang itu terkaget-kaget dan berkata bahwa bahkan sebelum orang yang menyuruhnya meludahi Nabi Muhammad menjenguk, justru Nabilah yang datang.

**

PERPUSTAKAAN tutup pukul empat sore. Mendengar bunyi bel tanda waktu berkunjung sudah habis, kadang saya jengkel juga. Entahlah, membaca di tempat itu memang berbeda. Ada sesuatu yang tidak tergantikan. Aroma khas yang meruap dari buku-buku itu. Derit kursi yang digeser. Ruangan Referensi yang lebih hening dari ruangan lain. Ibu-ibu petugas perpustakaan yang kadang suka mengobrol dengan berbisik-bisik, lalu tertawa tiba-tiba. Beberapa kenalan baru yang ajaibnya hanya bertemu di tempat itu. Juga, kebiasaanku melihat-lihat taman di belakang Gedung Merdeka dari jendela lantai dua. Dari ruangan yang penuh buku, taman yang hanya kelihatan sepotong itu rasanya begitu indah. Kadang suka ada siswa-siswi SMA yang melintas. Entah datang dari mana dan sedang apa mereka. Mungkin latihan menyanyi atau menari sebab sayup-sayup terdengar bunyi-bunyian merdu.

Pada awal 2005 saya seperti kehilangan barang berharga tatkala perpustakaan itu ditutup. Saat menyusun tulisan ini, saya terkenang juga kepada cerpen Putu Wijaya yang kusebut di atas. Seolah memang ada hubungannya—meski begitu samar dan tak tegas—antara perasaan kehilanganku atas perpustakaan itu dengan cerpen tersebut. Seolah saya hendak menganggap perpustakaan itu tidak lain sebagai sang penjual tempe, dan posisiku ada pada para pelanggannya. Lagi-lagi, saya berpikir siapakah sebenarnya yang bermental tempe.

Waktu itu pada April 2005, berlangsung peringatan lima puluh tahun Konferensi Asia-Afrika (KAA) di Bandung. Mungkin saking besar dan pentingnya acara itu, perpustakaan di belakang Gedung Merdeka pun dialihfungsikan. Di depannya dipasang papan baru bertuliskan: "Sekretariat Panitia Persiapan Peringatan 50 Tahun Konferensi Asia-Afrika." Lepas April 2005, perpustakaan itu tidak pernah buka lagi, dan hingga kini tulisan di depannya menjadi: "Sekretariat Pengelola Gedung Merdeka."

Kabarnya, seluruh inventaris dan koleksi buku diangkut ke Bapusda Jln. Soekarno-Hatta 629. Gedungnya memang lebih besar, seperti kubilang di awal, tapi suasananya gersang. Sedikit pohon rindang tumbuh di sana, lain dengan perpustakaan di belakang Gedung Merdeka. Selain terletak di kawasan yang banyak pohon besarnya, mukanya menghadap langsung ke Sungai Cikapundung. Kalau dulu sebelum pulang saya duduk makan bakso di halaman dan kebetulan jalan di depannya sedang lengang, terdengarlah suara sungai. Sekarang, kalau melewati gedung itu, saya suka berlama-lama. (Wildan Nugraha/Bergiat di Forum Lingkar Pena Bandung)***

Penulis:
Back