Bode Riswandi
Penunggang Kuda Waktu
"Cukup dengan sajakmu,
Aku merasa telah jadi pengantin," katamu
Dan bergegas kata-kata menunggang kuda
Ke pesisir malam berburu jadi mempelai baru
Dari sejumlah jarak berderap-menderu
Seseorang datang dari masa depan dan masa lalu
Bertukar cium, bertukar riwayat, bertukar waktu
Tetapi kita terlalu muda mengejar mereka
Untuk menukar segala yang kita punya
"Ketika aku limbung, sajakmu
Yang membakar rumah perawanku," ucapmu
Angin jadi tak seharum parfum ketabahanmu
Dan aku memacu lebih kencang kuda waktu ini
Jika dalam perutmu kelak tumbuh kata-kata baru
Seseorang itu datang dan pergi silih berganti
Membangun pelaminannya sendiri-sendiri
Dari risalah yang diperas ribuan tahun lalu
Kita kehabisan segalanya, selain mengenang
Musim pengantin, rumah perawan yang terbakar
Dan para penunggang kuda
"Dengan sajakmu,
Kau meminangku belakangan," bisikmu
2009
Menjadi Kayu
1
Lalu,
Kembali lagi aku ingin jadi kayu.
Seperti dulu ketika kita bertukaran musim
Di gelas-gelas yang telah kita sisakan kemabukannya
Hanya satu sloki, sambil menyapu satu-persatu
Butiran parfum di batang lehermu dan bertukar kehangatan
Yang sama-sama kita pahamkan:
seperti perapian itu, katamu.
Lagi-lagi,
Aku haus menjadi kayu.
Ketika kesepian yang kita tunggu-tunggu
Datang dari kesendiriannya yang panjang, menggondol
Bergelas-gelas kemabukan yang baru,
Sambil menantikan tikaman bibirmu:
yang serupa pisau serut itu, kataku.
Tak bosannya,
Ia pun tetap merindukanku menjadi kayu.
Ketika banyak musim yang terbakar,
Ketika banyak semak dan belukar, dan ketika
Segalanya ludes terbakar di ranjang yang baru dipesan
Menjelang kepergian bulan madu kita
Ke hutan-hutan:
lalu kita tidak lagi berkata-kata.
Jangan menolak,
Aku musti jadi kayu, pintamu.
Meninggalkan segala bulan madu
Yang kita jalani berwindu-windu.
Serta menggantikan waktu-waktu istirahat
Dengan pelaminan-pelaminan dan doa akad nikah
Bagi hutan-hutan carang dan tanah kerontang :
meski kita harus ketinggalan nostalgia
di stasiun-stasiun dan terminal-terminal.
Melulu,
Aku menerima tawaranmu menjadi kayu.
Meski daun-daun mengering, dan hutan-hutan
Jadi tebing. Kemudian kita menulis dengan angin
Tentang orang-orang yang gelisah, serta bangsa yang
Punah. Kemudian kita membacanya dengan azimat
Tentang sejarah yang kadung jadi keramat :
kemudian kita pun dingin untuk berhadapan
juga berbagi kehangatan.
2
Sesungguhnya,
Aku betah menjadi kayu yang tumbuh di mana pun
Tubuhmu minta. Lalu kita pun menyukainya
Sebagai keintiman yang luar biasa. Sentuhan termesra.
Kedekatan tak berkata, meski berkali-kali
tersesat di sungai antara buah dadamu.
Sebelum akhirnya sampai ke belukar rawa-rawa
Yang bukan lagi rumah kita :
ini bulan madu terpahit,
yang datang dan berulang-ulang, katamu.
Ternyata,
Aku harus bertahan menjadi kayu.
Menjadi apa yang kau mau. Lalu aku betah
Pada kuluman bibirmu yang serupa
Pisau serut itu, lalu kau menikmatinya
Sampai aku benar-benar mengilap dalam jilatanmu :
sebelum orang-orang gelisah itu menebang
menjadikan kita potongan tak bersahaja, kataku.
3
Lagi pula,
Sebagai kayu aku lebih menikmatimu sebagai hutan.
Lebih menikmati eranganmu yang panjang, lebih
Menikmatimu sebagai perempuan yang memiliki
Banyak rambut, dan lebih menikmatimu
Sebagai ranjang di musim dingin, ketika kehangatan
Musti kuledakkan dan kukabarkan
Pada malam-malam berkabut. Lagi pula, sebagai kayu
Telingaku lebih syahdu mendengar nyanyian hijau ladang gambutmu.
Lebih kerasan menarik ulur kenyal lidahmu.
2006
Bode Riswandi, Lahir di Tasikmalaya, 6 November 1983. Menulis puisi, cerpen, dan drama. Alumnus FKIP Bahasa dan Sastra Indonesia (Unsil), bergiat di Sanggar Sastra Tasik (SST).
Penulis: