Beni Setia
Soreang Dalam 20 Kuatrin
1
hujan lagi. gerimis kekal sepanjang malam
lantas pagi akan berkabut--seperti hari-hari
tahun lalu, seperti 10, 20 atau 40 tahun lalu
musim kembali mengurungku dalam sepi. sendiri
2
rumpun-rumpun bambu di bantaran kanan
dan kiri bertemu. dalam remang senja itu
rimbun di atas palung mempertegas desah arus
memanggil-manggil. mengajak menjauh ke muara
3
tak ada yang hilang meski ladang bambu habis
--kenangan tetap melenggang di jalan setapak
karena lampu-lampu setelah kabut itu bagaikan
kunang-kunang. menggerombol di rumpun bambu
4
beri aku tungku, beri aku kayu pinus yang bergetah,
beri aku ceret yang terus mendidihkan air, beri aku
seonggok abu di rongga pendiangan dan ubi manis
berwarna ungu--isyarat untuk bersisegera menyuruk
5
kadang-kadang kenangan bagai jalan setapak yang
tanahnya becek oleh rindu, kadang-kadang ingatan
serupa kubah langit penghujan yang ngungun. nun
--menyimpan semua yang ingin dilupakan. kuburan
6
matahari jam 09.00 menjerang pesawahan
yang baru diratakan dan dikuras airnya
menjerang bidang cokelat dan menebarkan aroma
lumpur ke dalam mimpi. isyarat agar berkunjung
7
aku ingin berbaring dan mencecap umbut rumput
aku hanya ingin melihat langit dari sela-sela daun
yang kerimbunannya diguncang angin gunung. aku
ingin bersitahan di dalam sunyi--sebelum dilupakan
8
--kadang-kadang hanya bunyi cericit burung alit
kadang-kadang hanya ruap bulir padi siap panen
yang berembus meresahkan tidur. kadang-kadang
bukan apa-apa: hanya kenangan yang terjaga. terusik
9
tak ada kenangan di pasar, tak ada ingatan di rumah
sakit--di sekolah ini hanya diajarkan hal-hal abstrak
sementara obrolan dengan kopi dan rokok senantiasa
menyuburkan rindu. tetes tangis digelitik bahak tertawa
10
sudah 20 tahun aku mencari kunci, mencari peta
rahasia di setapak, mencari pintu yang membawa
ke ruang pengekal kenangan. serupa teks skenario
tempat kita kembali berlaku seperti kelakuan dahulu
11
pernahkah kau berteriak dan suara lantangmu lenyap
diserap terowongan ke masa lampau? atau mungkin:
tiba-tiba terjaga di malam hari karena ada suara gaib
yang tiba-tiba menyelinap dari masa lalu. yang mengajak
12
kemudaan itu seperti gigi, yang bagaikan kenangan
: tiba-tiba tanggal--tak berbekas. menyisakan ruang
kosong bagi yang tidak bisa mencecap apa-apa lagi
--seperti kesunyian sebuah kamar seusai pemakaman
13
ada yang terusir dari jalan ini, ada yang tersisih dari
bukit-bukit itu, dan ada yang menghilang dari kota--
meski orang-orang riang tak merasa ditinggalkannya
: apa itu kutukan bagi orang yang pergi mengembara?
14
mereka bicara tentang anak dan cucu, tentang usia
yang membuat mereka surut. ok! aku masih ingin
mencecap masa muda dan cinta yang tak selesai--
tentang anak dan cucu yang tidak jadi ada di kota ini
15
siulkan lagi lagu itu, siulkan pelan-pelan--karena
meski ada yang teringat tak akan ada yang tahu
akan senja muram dan teras suram. kesunyian dari
segala yang tak pernah terlampiaskan. sesalan pepat
16
: di teras ada kursi tempat kau bersandar. memenjam
merasakan semilir angin--bercerita tentang pete cina
di halaman belakang, tentang bersijuntai pada dahan
saat menyawang perbukitan dan dibelai angin gunung
17
semua suara tak benar-benar reda, seperti akar
rumput tertinggal di setapak bersama biji-biji
rumput yang siap tumbuh--hamparan itu juga tak bisa
menghapus jejak karena berulang-ulang kita berziarah
18
kabut itu serupa jala yang dicungkupkan waktu
mengumpulkan semua dalam bubu silaturahmi
yang tidak berasal dari dahan pohon darwin atau
gairah cinta terlarang sangkuriang. senantiasa bersalam
19
cinta kita bagai dua buah kemiri. beradu perut
dalam jepitan bilah bambu. saat dihentak oleh
waktu: berhamburan. kita terserak sebagai kepingan
--tidak pernah bisa bersatu dalam hidangan apa pun
20
aku mengenang soreang, mengenangkan semua
yang pantas dikenang. semua sajak pendek ini
kumparan rindu dan ingatan yang berpendar--
serupa kunang-kunang dekat ladang bambu. kuburan
Beni Setia , lahir di Soreang 1 Januari 1954. Menulis puisi, cerpen, dan esai, kumpulan puisinya "Legiun Asing" (1987) dan "Harendong" (1996).
Penulis: